Untuk Angeline

Tag

, , , , , , , , , ,

Untuk Angeline

Judul film: Untuk Angeline
Sutradara: Jito Banyu
Produser: Niken Septikasari, Duke Rachmat
Genre: drama, biografi
Produksi: Citra Visual Sinema
Tanggal rilis: 21 Juli 2016 (Indonesia)
Durasi: 100 menit

 

Raut wajah Samidah (Kinaryosih) tampak kosong dan kuyu menghadapi persidangan. Benak perempuan asal Banyuwangi itu berkecamuk. Ia harus menjawab permintaan Hakim ketua (Ratna Riantiarno) untuk memaparkan kesaksian. Ingatannya lantas melayang menuju masa silam; menuju hari kala ia dan suaminya, Santo (Teuku Rifnu Wikana), tengah terlibat pembicaraan serius.

Hari itu mestinya Samidah senang bisa menimang putri pertamanya. Sayang, kenyataan tak seperti yang diinginkan. Uang yang ia kumpulkan untuk biaya persalinan, rupanya tak cukup menebus biaya rumah sakit. Posisi mereka terjepit.

Sementara Samidah murung dan bingung, Santo terlihat enggan berkorban. Alih-alih mau menjual motor, Santo malah menunjukkan jalan pintas yang sulit diterima nalar Samidah: menyerahkan bayi kecilnya kepada John dan Terry (Roweina Umboh).  Baca lebih lanjut

Ada Apa dengan Hujan Bulan Juni?

Tag

, , , ,

Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono

Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penyunting: Mirna Yulistianti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 135 hlm
ISBN: 978-602-03-1843-1

Blurb

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.

Antuasisme saya terpantik seketika ketika membaca kabar terbitnya novel Hujan Bulan Juni beberapa waktu sebelum Juni 2015. Maklumlah, saya nge-fans dengan karya puisi SDD yang berjudul mirip dengan novel satu ini. Dalam benak terpikir, apakah ini versi prosa mendetail dari puisi Hujan Bulan Juni? Ataukah (mungkin) kisah yang melatarbelakangi puisi tersebut?  Baca lebih lanjut

Berpuisi a la Payung Teduh

Tag

, , , , ,

Hai, Sahabat! Kalau kalian penyuka musik indie, tentu pernah mendengar band bernama Payung Teduh. Grup musik yang lahir pada akhir tahun 2007 silam ini mulanya digawangi oleh dua sahabat: Mohammad Istiqamah Djamad (Is – gitar dan lead vocal) dan Comi Aziz Kariko (Comi – double bass). Seiring kesadaran bahwa mereka perlu membubuhkan warna lain, yang lebih kaya; maka digandenglah Ivan Penwyn (Ivan – ukulele) dan Alejandro Saksakame (Cito – drum).  Baca lebih lanjut

Dorihwaga: Kisah Penyanyi Perempuan Pertama Era Joseon

Tag

, , , , , , , , , , , , ,

The Sound of a Flower, Dorihwaga, The Hymn

credit: AsianWiki

Judul film: The Sound of a Flower / The Hymn / Dorihwaga
Sutradara: Lee Jong-Pil
Genre: biografi, drama, musik
Produksi: Cinema Dahmdahm, About Film
Distributor: CJ Entertainment
Tanggal rilis: 25 November 2015 (Korea Selatan)
Durasi: 109 menit

Tepatnya pada tahun 1867, Jin Chae-Sun (Bae Suzy)—seorang anak perempuan yang baru saja kehilangan ibundanya dalam perjalanan menembus musim dingin—muncul di hadapan Shin Jae-Hyo (Ryoo Seung-Ryong). Pertunjukan para penyanyi pansori (opera tradisional Korea) yang dipimpin oleh Shin Jae-Hyo menarik perhatian Chae-Sun kecil. Meski demikian, ia menonton pansori sambil menangis karena sedih. Melihat Chae-Sun menangis, Shin Jae-Hyo menghampiri lalu menghiburnya. Kejadian itu meninggalkan kesan dalam di hati Chae-Sun, sehingga ia bermimpi bisa menjadi seorang penyanyi pansori seperti Shin Jae-Hyo.

Beberapa tahun kemudian, Chae-Sun menemui Shin Jae-Hyo. Ia mengutarakan keinginannya mempelajari pansori dan menjadi murid kepala Dongrijungsa (sekolah calon penyanyi pansori) tersebut. Sayang, keinginan Chae-Sun ditolak karena pada masa itu perempuan tidak diperbolehkan menjadi penyanyi. Penolakan itu tidak lantas menyurutkan niat Chae-Sun. Diam-diam ia sering pergi ke pagar Dongrijungsa demi mencuri dengar teori-teori tentang ilmu pertunjukan pansori. Ia juga mempraktikkan apa yang ia pelajari secara sembunyi-sembunyi.  Baca lebih lanjut

Menantikan AADC 2

Tag

, , , , , , ,

Cinta … cinta …, oh, cinta. Entah mengapa tema besar ini masih saja membuat sebagian besar penikmat film rela meluangkan waktu menonton (termasuk saya) *ngacung. Pertengahan Februari ini malah, saya menonton (lagi) film karya Miles Production. Tidak sengaja, sih. Pas sekalinya nyetel televisi, eh, ada Cinta dan Rangga. Aww! Langsung stay tune. Hihihi. Apa nggak bosan? Sayangnya, nggak. 😆  Padahal kalau dipikir-pikir film Ada Apa Dengan Cinta benar-benar baheula, ya. Saat film ini rilis saya duduk di bangku SMA, Rangga-Cinta juga. Nyambung, kan? *iya, kalau disambungkan, dan itu butuh ber-ratus-kilometer kabel bawah laut. 😛

aadc 2002

Meski jalan ceritanya secara umum seperti kebanyakan cerita klasik remaja—tadinya  sebel, karena sesuatu hal berubah jadi jatuh cinta, dengan banyak bumbu persahabatan di dalamnya—tapi, kolaborasi sentuhan Mira Lesmana, Rudi Soedjarwo, Melly Goeslaw, Dian Satrowardoyo, Nicholas Saputra, dan segenap pemain-kru film, bisa menyihir saya tetap suka, bahkan hingga 14 tahun kemudian. Please, jangan tanya mengapa.  Baca lebih lanjut