Tag

, , , ,

Perempuan yang Menuntun

Perempuan yang Menuntun (muka)

PEREMPUAN YANG MENUNTUN adalah judul sebuah buku yang saya temukan di rak toko buku Social Agency Baru, Jln. Kaliurang km 9, Dayu. Sesekali saat pikiran sedang jenuh dan tidak tahu ke mana lagi pergi; lantai 2 toko inilah yang sering saya jadikan tujuan. Menyendiri, melihat koleksi buku zaman baheula.. yah, kalau memang sedang tak cekak uang bolehlah membeli beberapa demi mengusir penat hitung-hitung bernostalgia. Ok, kembali pada obyek pembicaraan kita kali ini. Hmm, entah angin apa yang menuntun saya hingga meraih buku yang dicetak pertama kalinya pada Maret 2000 ini. Bisa jadi tertarik pada gambar dua buah tangan yang satu menggenggam yang lain, hmm… sesuailah dengan judulnya. Orang-orang yang tertulis di dalamnya tentu bukan sembarang orang, apalagi ini berasal dari kaumku, perempuan. Nah, dari ketertarikan singkat itu tadi, lembar demi lembar pun kubuka. Di bagian daftar isi kutemui 9 nama perempuan yang mengisi kisah perjalanan penuh inspirasi dari perempuan hebat sahabat Ashoka.

Ashoka? Ya, Ashoka, sebuah organisasi sosial nirlaba yang bertumpu pada nilai-nilai demokrasi; salah satu kegiatannya melakukan identifikasi dan memilih individu-individu tertentu untuk selanjutnya menjadi Fellows Ashoka. Lalu, bagaimana caranya hingga menjdi seorang Fellows Ashoka? Bagaimana dengan kriteria pemilihannya? Ashoka mempertimbangkan aspek inovasi, kreativitas, dedikasi, dan komitmen terhadap aktivitas sosial yang dilakukan oleh masing-masing individu tersebut. Hmm, ini baru feminisme.. Tapi, coba lihat lebih dekat lagi bagaimana pengejawantahan feminisme menurut kesembilan perempuan ini.

Kita mulai dari Ari Sunarijati. Perempuan pemberdaya buruh perempuan ini lahir di Madiun, 1 Juni 1952. Kisah inspirasi beliau ditampilkan dengan judul “PEREMPUAN DI RIUH BURUH”. Beliau telah berkecimpung di dunia perburuhan sejak tahun 1978. Berawal dari rasa risih melihat keadaan buruh perempuan pada masa orde baru yang diperlakukan kurang adil; dianggap sebagai manusia kelas dua yang hanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik dan tidak biasa berperan di ranah publik, beliau pun bertindak. Dengan menempuh perjalanan nan panjang, melalui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) beliau banyak menangani permasalahan buruh perempuan. Mulai dari penyadaran akan hak-hak buruh perempuan yang sering dilanggar, kedudukan buruh perempuan yang lebih banyak diposisikan sebagai obyek bukan subyek; serta peningkatan kesejahteraan buruh.

No risk, no gain.. demikian pula yang beliau alami. Kegiatan ini berisiko tinggi karena lemahnya kedudukan SPSI pada waktu itu juga kebijakan pemerintah orde baru yang memang menghendaki banyak investor mau menanamkan sahamnya ke perusahaan salah satunya dengan kebijakan menyediakan buruh dengan upah sangat murah tanpa ada perhatian lebih. Sementara di lain sisi, para buruh perempuan tidak mengerti apa sebenarnya yang menjadi hak-hak mereka. Bahwa mereka berhak mendapatkan cuti haid, cuti hamil, perlindungan ekstra dan mendapatkan extra-fooding saat bekerja malam hari serta mendapatkan upah sama dengan buruh laki-laki untuk pekerjaan yang sama sesuai Konvensi ILO No. 100. Kondisi ini diperparah dengan pembatasan berkumpul dan berserikat; yang mengajukan pendapat TIDAK SEPAKAT dengan pemerintah dianggap makar, di-PKI-kan, lalu ditangkap. Kendati menemui berbagai hambatan, tetapi itu semua bukanlah penghalang bagi perempuan yang pernah aktif di Biro Perempuan dan Anak SPSI tersebut.

Berkat perjuangan yang demikian keras, pada tahun 1995 SPSI mampu menjalin kerja sama dengan organisasi buruh internasional, International Labour Organization (ILO). Namun, tetap saja perjuangan belum berakhir sebelum para buruh perempuan mendapatkan hak-haknya secara layak sebagai manusia seutuhnya, dan bukan sebagai alat produksi semata.

Selanjutnya, Chamsiah Djamal. Kisah beliau menghias buku Perempuan yang Menuntun dengan judul “PEREMPUAN BERSAMA PELUH KERJA”. Perempuan kelahiran Takengon, Aceh Utara, 9 Juni 1954 ini menggagas program “Sosialisasi Situasi Perempuan” yang kegiatan utamanya menerbitkan publikasi serial tentang berbagai pekerjaan perempuan lapis bawah. Awalnya beliau tergelitik oleh survei penelitian PPSW yang menyatakan bahwa sekurangnya 80% istri berstatus sebagai pekerja informal selain mengurus rumah tangga. Dan cukup mencengangkan pula bahwa pekerjaan mereka sehari-hari malah menjadi penopang biaya hidup “utama”. Bagaimana mungkin perempuan yang selalu dianggap manusia kelas dua mampu menopang keluarga? Bukankah selama ini yang jauh lebih berhak memberikan nafkah bagi keluarga adalah suami? Hmm, tunggu dulu! Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang berasal dari keluarga lapis bawah yang rata-rata suami bekerja sebagai sopir, buruh bangunan, dsb memang memiliki pekerjaan domestik yang mampu diandalkan saat nafkah dari suami mereka sedang seret. So, pesan moralnya? Jangan pernah menomorduakan makhluk Tuhan yang satu ini (baca: perempuan) 🙂

Berikutnya Dina Lumbantobing. Lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 27 November 1957. Beliau merupakan salah satu pendiri dan pemimpin Yayasan Sada Ahmo, yayasan yang berfokus pada program penguatan eksistensi Masyarakat Adat Pakpak Dairi melalui penyelenggaraan taman bina asuh anak. Tidak hanya menjalankan program ini, beliau pun secara khusus terlibat aktif dalam jaringan program perempuan dalam usaha kecil di Indonesia. Bersama yayasan ini pula beliau menerbitkan buletin Suara Perempuan sebagai sarana pendidikan masyarakat tentang eksistensi perempuan dan pendidikan bersosial politik.

Selanjutnya, Johanna Armgrad Pattiasina. Perintis kegiatan sosial Badan Kerja Sama Penyuluhan Sumatera Utara (BKSP) pada tahun 1979 ini dilahirkan di Yogyakarta, 8 Juni 1956. Organisasi tersebut berkecimpung pada pengorganisiran pengembangan warga masyarakat dan petugas lapangan, Namun demikian, rupanya kendala birokrasi malah menghambat perkembangan kreativitas dan pemberdayaan masyarakat. Hal inilah yang mendorong beliau untuk ikut serta dalam Pendirian Yayasan Bina Insani. Fokus beliau adalah meningkatkan kesadaran perempuan dan kesejahteraan keluarga melalui kegiatan ekonomi keluarga skala kecil serta peningkatan sarana kesehatan dan sanitasi. Kegiatan inilah yang akhirnya mampu membawa beliau terpilih sebagai Pemuda Pelopor Nasional tahun 1989.

Berbeda dunia dengan yang lain, Lilik Sulistyowati memilih melakukan pendampingan terhadap para pekerja seks komersial (PSK). Hmm, dunia yang bagi sebagian besar orang merupakan dunia kelam rupanya malah mendorong perempuan kelahiran Ujung Pandang, 20 Mei 1959 ini untuk dapat memahami segala permasalahan PSK. Pada akhirnya aktivitas beliau ini menjadikan beliau satu dari sedikit tokoh kunci bagi berbagai instansi dan aparat pemerintah, dokter, LSM, organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial pers, maupun peneliti yang ingin memahami dan/atau terlibat dalam upaya pendampingan/pengentasan perempuan PSK di wilayah Dolly dan Jarak Surabaya. Program utamanya yang bertajuk “Pendampingan dan Pemberdayaan Pekerja Seks Komersial di Surabaya” membawa beliau bergabung sebagai Fellows Ashoka pada tahun 1996.

Selanjutnya Lusi Margiyani, yang paling muda di antara yang lain. Beliau lahir di Yogyakarta, 16 Maret 1966. Perempuan yang menjadi pendiri Kelompok Studi Vidyadhari semasa kuliahnya dan perintis serta pemimpin Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) ini berfokus pada pengenalan nilai keadilan gender sejak masa kanak-kanak. Berangkat dari keprihatinan terhadap eksploitasi anak oleh kepentingan orang dewasa, beliau pun menggagas sebuah ide dengan slogan utama “Bebaskan Tumbuh”.

Lalu, Sita Aripurnami, lahir di Jakarta, 21 Desember 1959. Beliau pernah memimpin Yayasan Kalyanamitra dan aktif menulis artikel di media massa serta mempresentasikan kertas kerja dengan tema seputar kekerasan terhadap perempuan di forum nasional maupun internasional. Bersama Kalyanamitra, beliau aktif melakukan pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan seksual. Beliau menyelesaikan studi S2 di the London School of Economic and Political Science di Inggris tahun 1997 dengan tesis berjudul “Between Control and Resistance, Discourse Analysis of Indonesian Population Policy”.

Perempuan yang Menuntun

Perempuan yang Menuntun (belakang)

Next, Sri Kusyuniati, lahir di Yogyakarta, 20 Juni 1958. Beliau adalah seorang lulusan IKIP Negeri Yogyakarta (saat ini Universitas Negeri Yogyakarta). Perempuan yang akrab disapa Kus ini setelah lulus dari bangku perkuliahan aktif di dunia lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan mendirikan Yayasan Annisa Swasti yang berfokus pada masalah buruh industri. Beliau juga menggagas dan menjadi salah satu pendiri Rifka Annisa: Women Crisis Center, Yogyakarta. Kepedulian yang begitu besar terhadap nasib buruh industri menginspirasi beliau sehingga sejak tahun 1999 beliau berbagi waktu sebagai salah satu Koordinator Nasional Program bagi buruh perempuan pada kantor ILO di Jakarta. Selain itu, tema ini mendorong Kus untuk mendalami dan menyelesaikan studi S3 di Swinburne University, Melbourne, Australia dengan disertasi berjudul “An Evaluation of the Dynamics of the Indonesian Workers Movement: Strikes 1990-1996

Last but not the least, Suwarni Angesti Rahayu, akrab disapa Yayuk, lahir di Yogyakarta, 23 Desember 1951. Kepedulian dan keberpihakan beliau terhadap perempuan korban kekerasan telah mendorong beliau untuk keluar dari status sebagai pegawai negeri. Selanjutnya beliau bergabung dalam pendirian Rifka Annisa dan berkedudukan sebagai direkturnya. Rifka Annisa merupakan LSM pertama di Indonesia yang program pendampingannya menggunakan konsep rumah rehabilitasi bagi perempuan korban kekerasan (women crisis center).

Hmm, betapa menyenangkan membaca kiprah sembilan perempuan hebat Fellows Ashoka di atas :D. Semoga kisah beliau semua akan semakin membangkitkan semangat perempuan Indonesia. Tidak ada yang keliru dengan penciptaan makhluk bernama “perempuan”. Bukan pula sebuah aib dilahirkan menjadi seorang perempuan karena hakikatnya setiap makhluk Tuhan sama derajatnya, laki-laki maupun perempuan sama. Sekarang, tinggal bagaimana menyemangati diri untuk memanfaatkan kesempatan dari-NYA agar menjadikan manfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar seperti yang dipesankan seorang ilmuwan, Albert Einstein,

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.

Bersemangatlah, Perempuan Indonesia!!