Tag

, , , ,

Anchor Woman, adakah di antara Sahabat yang pernah mendengar dua kata tersebut? Anchor dalam definisinya berarti jangkar, tetapi istilah ini dalam pertelevisian diperuntukkan bagi pembaca berita utama. Dulu, saya sangat nge-fans dengan Dana Iswara, Desi Anwar, dan Rosiana Silalahi. Melihat gaya mereka menyampaikan berita, berdebat sesuai etika.. hmm, CHARMING! Ya, seperti mereka itulah sosok anchor. Namun, tulisan saya kali ini tidak akan menyentuh ketiga tokoh yang telah saya sebutkan. Hanya saja, kehidupan orang yang dituliskan di sini (mungkin) hampir sama kerasnya dengan kehidupan mereka sebagai bagian dari dunia siaran televisi.

***

Anchor Woman (News no Onna) (credit: DramaWiki)

Anchor Woman, sebuah film serial Jepang yang dulu pernah tayang di sebuah stasiun televisi swasta sekitar tahun 2001. Berkisah tentang suka duka seorang pembawa berita utama bernama Tamaki Aso. Aso, demikian ia akrab disapa, adalah seorang anchor di sebuah televisi bernama Channel 2 (diperankan oleh Honami Suzuki). Ia sosok perempuan tegas, tangguh, dan berprinsip. Menikah dengan seorang duda, Tei Kudo, beranak laki-laki yang sedang memasuki masa remaja baginya bukan sebuah halangan untuk berkarier di dunia jurnalistik. Meski sebenarnya Aso dan Ryu (anak tirinya) tidak pernah bisa saling cocok. Tidak terbayangkan bagaimana sulitnya menjadi Aso. Kehidupan Aso seperti layaknya kehidupan jurnalis, tightly in time! Waktu adalah harta tak ternilai untuk mendapatkan berita teraktual. Berpacu dengan waktu adalah hal yang sangat lumrah bagi seorang Aso. Namun, dalam perjalanan sang waktu Aso menemui keadaan yang sangat sulit. Ia ketahuan mengusili atasannya sehingga ia memilih mengundurkan diri dari stasiun teve ternama itu. Ia bersama Ryu pun akhirnya pindah ke sebuah tempat yang lebih jauh dari pusat kota. Keadaan tentu berubah, tidak ada lagi orang mengelukan Aso di kota kecil itu. Aso patah arang, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan sebuah stasiun teve kabel Niko-Niko. Di sanalah Aso memulai perjuangan lebih berat.

Hmm, seperti apa stasiun teve kabel itu? Namanya juga teve kabel.. Studionya kecil, pegawainya sedikit, siarannya pun sebatas yang lokal-lokal saja. Kondisi ini sempat membuat mental Aso down dan ingin berhenti. Namun banyaknya simpati dan pengaruh dari penonton serta teman-teman barunya, membuat Aso mengurungkan niat. Puncak ujian ketangguhan untuknya datang saat ia ingin mewawancarai seorang ahli Fisika yang dulu semasa di Channel 2 pernah ia wawancarai. Masalah pun muncul. Apa? Lokasi wawancara ada di Channel 2!! Aso pun memutar otak. Naluri jurnalisnya mendesak, “Aku harus bisa!

Hari H tiba. Ia menyamar! Dengan gagah Aso dan seorang cameraman masuk dan meliput wawancara tersebut. Tiada seorang pun teman lawasnya yang mengenali Aso. Boleh dikatakan segala rencananya hampir 100% berhasil, tetapi… sungguh tak dinyana, seorang cameraman dari stasiun teve lain menutupi kamera liputan teve Niko-Niko saat Aso mengajukan pertanyaan pada sang ahli Fisika. Perselisihan antar cameraman pun terjadi. Suasana makin gaduh ketika kamera partner Aso dijatuhkan oleh cameraman dari stasiun teve lain. Melihat partnernya diperlakukan seperti itu, Aso turun tangan. Apa yang terjadi kemudian? Tanpa basa-basi Aso melayangkan sebuah tinju ke wajah si cameraman nakal. Gubraak!! Si cameraman pun tersungkur, PINGSAN! [Horeee!! 😆 ]. Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. Saking marahnya, tanpa disadari Aso melepas wig yang menjadi alat penyamarannya.

 “Apa yang salah dengan teve kabel? Apa teve kabel tidak berhak meliput?” tanya Aso.

Tidak ada yang berani menyahut.

“..Akan kubuat siaran terbaik dari teve mana pun!!” teriak Aso dengan lantang sembari melangkah pergi dari acara liputan itu.

Belum sampai langkah Aso ke pintu studio, sang ahli Fisika menjawab pertanyaan Aso.

 “Saya akan menjawab pertanyaan Anda. Penghargaan tersebut akan saya berikan kepada warga kota yang menyebut saya guru. Kedua, pada sebuah teve kabel di kota kecil itu, dan ketiga kepada penyiar wanita teve kabel itu..”

Aso yang paham maksud kalimat itu pun berhenti melangkah, berbalik lalu  mengucapkan terima kasih sambil menganggukkan kepalanya. Ia dan partnernya pun keluar dari Channel 2.

***

Itulah satu dari sebelas episode Anchor Woman yang berhasil saya rekam kembali di catatan harian buku keempat, tepatnya hari Sabtu, 3 Maret 2001. Ada banyak pesan moral yang saya dapatkan dari drama ini, sebagai perempuan khususnya dan manusia pada umumnya.

Bahwasanya kita memang dituntut untuk menghargai waktu, bekerja keras, pantang menyerah sesering dan seberat apa pun aral melintang di hadapan.

Bahwasanya kita kadang perlu bertindak sesegera mungkin dan menyisipkan ambisi agar setiap mimpi indah yang selalu kita dambakan itu terwujud.

Bahwasanya kita tidak dapat hidup sendiri; setiap manusia membutuhkan manusia lain untuk berbagi dan berinteraksi.

Bahwasanya kita patut berlaku adil kepada siapa saja, tanpa memandang embel-embel yang melekat karena kita tidak pernah bisa memilih dari siapa dan keluarga seperti apa kita dilahirkan, tetapi kita berhak memilih seperti apa kehidupan kita dengan menentukan arah, cara, dan tujuan hidup.

Bukankah Rabb mengajarkan kita untuk menentukan jalan sebebas-merdekanya dengan satu konsekuensi: bertanggung jawablah atas waktu dan kesempatan yang telah diberi serta pada pilihan hidupmu kelak di kemudian hari.