Tag

, , , , , ,

Sang Patriot

Judul: Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis: Irma Devita
Penyunting: Agus Hadiyono
Jumlah halaman: 280 halaman
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Penerbit: Inti Dinamika Publishers
ISBN: 978-602-14969-0-9

Namanya Mochammad Sroedji, anak kedua buah hati pasutri asal Madura, Hasan dan Amni. Sejak kecil Sroedji telah tampil layaknya seorang senopati. Kegemarannya membaca membuat ia disegani oleh teman-teman sebayanya. Di rumah pun, ia paling menonjol di antara keenam saudaranya yang lain lantaran keinginannya yang besar untuk bersekolah. Ya, meski lahir dari keluarga pedagang, ia tak berbakat berdagang. Beberapa kali malah, ia pulang tanpa membuahkan hasil, atau bahkan merugi (halaman 16—17). Kedua orangtuanya, meski penuh gusar dan kewalahan, tetap mengamini keinginan Sroedji. Mereka menabung demi memenuhi impian si anak kedua. Atas bantuan adik orangtuanya, Sroedji pun bisa melanjutkan sekolah.

Dalam jenjang kehidupan berikutnya, Sroedji berhasil mempersunting seorang anak bangsawan. Kerasnya keinginan Sroedji, rupanya sepadan dengan perempuan yang kelak menjadi isrinya, Rukmini. Demi menentang perjodohan yang digagas orangtuanya, Rukmini mempersyaratkan si calon suami adalah seorang yang fasih berbahasa Belanda (halaman 28). Perjodohan yang awalnya ia tentang tersebut, justru membuka babak baru bagi Sroedji-Rukmini; babak menuju jalan perjuangan kemerdekaan yang panjang dan berliku.

Setelah bagian pengantar, klimaks mulai terasa kembali saat Sroedji mendaftar menjadi calon perwira PETA. Tanpa kelapangan hati dan pikiran, saya pikir, Rukmini yang kala itu baru saja melahirkan anak kedua, takkan mengizinkan suaminya pergi. Namun, lihat saja bagaimana ia memberikan dukungan kepada Sroedji,

“Menurutku, jika menjadi tentara adalah panggilan jiwamu sejak dulu, penuhilah, Pak. Seseorang akan berhasil jika melakukan pekerjaan sesuai hati nuraninya. Berangkatlah, Pak. ….” (halaman 48)

Sepeninggal suaminya, Rukmini harus rela menjaga diri dan anak-anak mereka. Lalu, bagaimana jadinya sebuah keluarga tanpa ayah? Sungguh, lakon penuh pengorbanan dan penderitaan yang terhimpun dalam buku ini tak hanya terlihat dari si tokoh utama. Bahkan penggodokan (yang menurut saya tak manusiawi) di kamp PETA, baru merupakan pintu gerbang perjuangan sesungguhnya. Sanggupkah Sroedji dan Rukmini bertahan? Akankah kehilangan orang-orang tercinta mengikis semangat nasionalisme Sroedji dan pejuang lain? Semua ditulis secara apik oleh Irma Devita di sini.

Sebagai cucu Letkol. Mochammad Sroedji, Irma Devita tentu tidak pernah menyangka bahwa kakeknya ditakdirkan menjadi salah satu bagian kisah heroik perang kemerdekaan di bagian timur Pulau Jawa, terutama Jember dan sekitarnya. Pengalaman emosi si penulis begitu kental terikutkan. Walau paparannya kadang penuh kalimat majemuk, harus saya akui, lembar demi lembar buku ini membuat pikiran dan emosi saya tersulut. Bukan saja karena detail cerita, namun juga diksi yang digunakan dalam pendeskripsian suasana atau konflik. Meski demikian, beberapa kali saya terganggu dengan alur cerita yang maju-mundur-maju lalu mundur lagi. Itu menyebabkan saya harus kembali ke halaman sebelumnya, membaca sekali lagi atau menilik siapa tahu ada titi mangsa yang terlewatkan.

Dilihat dari tampilan fisik, buku ini berhasil memikat hati. Sampulnya yang bernuansa merah jingga senada dengan gelora api semangat dari para tokoh yang dikisahkan di dalamnya. Sementara itu, ditilik dari tipografinya; meski terkesan rapat, pemilihan ukuran huruf masih cukup nyaman. Namun demikian, beberapa kali mata saya terkecoh karena seolah tidak ada beda antara 1 atau 2 ketukan tombol spasi.

Beberapa istilah asing dan bahasa daerah sebagian besar sudah ditulis sebagaimana aturan yang berlaku. Sayangnya, masih ada beberapa halaman tidak konsisten. Bisa jadi karena kurang cermat dalam proses penyuntingan. Sebagai contoh, halaman 220. Di halaman tersebut saya jumpai sebuah kalimat percakapan, “Aku wis gak popo, Ndi. …. “ tidak tercetak miring.

Secara keseluruhan, konsep yang diusung oleh penulis—sejarah yang dituangkan ke dalam bentuk fiksi—bagi saya pribadi merupakan ide positif yang patut diapresiasi. Setidaknya orang-orang yang kurang suka pelajaran menghapal, macam saya, akan memandang sejarah bukan saja serentetan peristiwa berdarah lengkap dengan tanggal untuk dihapal. Novel semacam ini menularkan juga nilai patriotisme kepada para pembacanya. Empat dari lima bintang saya apresiasikan untuk Sang Patriot.

Iklan