Tag

, , , , , , , , ,

Arjuna-Karna

Judul: Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna
Pengarang: Pitoyo Amrih
Penyunting: Elis Widayanti
Jumlah halaman: 426 halaman
Cetakan: Kedua, April 2010
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 978-602-955-522-6

Tersebutlah Dewi Kunti, seorang puteri kerajaan Mandura. Suatu malam ia terduduk menangis di sebuah balai bambu. Entah, apa yang membuatnya tampak begitu bersedih, padahal semestinya ia bergembira menanti kelahiran putra pertamanya. Rupanya, ada begitu banyak beban batin dalam diri Dewi Kunti. Jabang bayi yang dikandungnya adalah hasil hubungan gelap. Itulah mengapa, ia disembunyikan sementara waktu di Pertapaan Girireja.

Di pertapaan tersebut, Resi Druwasa—penasihat raja Mandura—lah yang memelihara Dewi Kunti hingga jabang bayi dalam rahimnya lahir. Ayah Dewi Kunti (Prabu Basukunti) meminta pada Resi Druwasa agar aib yang menimpa putri keduanya itu disimpan serapi mungkin. Rapi dan bersih, sehingga Dewi Kunti bisa kembali ke istana untuk melaksanakan perhelatan sayembara perjodohan.

Mestinya jika Dewi Kunti mau berterus terang soal ayah dari si jabang bayi, masalah akan lebih mudah diurai, begitu pendapat Resi Druwasa. Sayangnya, Dewi Kunti enggan jujur. Justru jika ia mengaku bahwa si ayah adalah petinggi bangsa dewa, dunia wayang bisa geger dibuatnya. Itulah mengapa, Dewi Kunti memilih bungkam.

Hari kelahiran si jabang bayi pun tiba. Bayi laki-laki tersebut dilahirkan dengan cara tak lazim. Resi Druwasa mengeluarkannya dari lubang telinga kiri Dewi Kunti! Ajaib, tapi seperti itulah cara yang dianggap tak melukai Dewi Kunti.

Setelah hampir dua purnama, si jabang bayi pun terpaksa direlakan pergi. Hasil hubungan tidak sah, tidak bisa tinggal di istana. Sebuah kapal kecil bertatahkan nama “Karna” pun disiapkan. Kapal kecil itulah yang membawa putera pertama Kunti yang beri nama Karna menyusuri sungai.

Sementara Dewi Kunti kembali ke istana, nasib membawa Karna kecil kepada seorang abdi kerajaan Hastinapura bernama Radeya. Di keluarga sederhana Radeya-Radha, Karna dibesarkan, jauh dari mewahnya kehidupan istana.

Lain di Hastinapura, lain pula di Mandura. Sekembalinya Dewi Kunti ke istana Mandura, Prabu Basukunti pun segera melaksanakan sayembara perjodohan untuk puteri keduanya itu. Sayembara itu dimenangkan oleh Prabu Pandu Dewanata, raja Hastinapura, dan secara otomatis, Dewi Kunti diperistri oleh Prabu Pandu. Di saat itu pula, Raden Narasoma (putera Prabu Mandrapati, raja Mandraka) yang berhasil dikalahkan oleh ajian Prabu Pandu dalam sayembara itu, ‘menghadiahkan’ adik perempuannya, Dewi Madrim, sebagai istri kedua.

Demikianlah, Hastinapura kemudian makin bertumbuh oleh pernikahan Prabu Pandu dengan kedua istrinya. Dari Dewi Kunti, Prabu Pandu mendapatkan tiga orang putera: Samiaji, Permadi, dan Bratasena. Sementara, dari Dewi Madrim, Prabu Pandu mendapatkan dua orang putera kembar kidal: Nakula dan Sadewa. Kelima putera Prabu Pandu inilah yang diberi julukan Pandawa.

Beberapa warsa kemudian kesedihan melanda kerajaan Hastinapura. Prabu Pandu dan Dewi Madrim meninggal saat berburu ke hutan Wanamarta. Nyawa dan jasad mereka dibawa ke istana bangsa dewa karena melakukan kecerobohan. Yang menjadi persoalan kemudian adalah siapa yang akan menggantikan kedudukan Prabu Pandu sebagai raja Hastinapura? Raden Samiaji, putera sulung Prabu Pandu, masih terlalu muda untuk menggantikan tahta ayahnya. Sementara, Raden Bhisma—paman dari Prabu Pandu—sudah bersumpah tidak akan menikah dan naik tahta.

Di tengah kondisi pelik itu, akhirnya diputuskan bahwa Hastinapura akan diperintah sementara waktu oleh Raden Destarata, kakak dari Prabu Pandu yang mengasingkan diri di Gajahoya, didampingi oleh Bhisma. Keputusan tersebut bukan tanpa akibat. Memanggil kembali Raden Destarata juga berarti membawa keseratus anaknya, Kurawa, kembali ke Hastinapura.

Benar saja. Kekacauan mulai terjadi di Hastinapura setelah para Kurawa mulai tinggal di istana. Destarata yang tuna netra tak sanggup mengatur anak-anaknya yang kurang sopan santun. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak baik, Raden Bhisma pun memanggil Resi Durna. Ia diberi mandat menjadi guru bagi cucu-cucu Bhisma, Pandawa dan Kurawa muda.

Hei, lalu bagaimana dengan Karna, putera Dewi Kunti yang tersia-sia? Ayah angkatnya, Radheya (dikenal juga dengan nama kusir Adirata) memohonkan sebuah pekerjaan baginya. Karna resmi menjadi prajurit Hastinapura dan oleh Raden Bhisma, ia diberi kepercayaan untuk menjaga para Kurawa.

Sejak saat itulah, Karna lebih banyak bergaul dengan Kurawa. Bahkan, Duryudana, sulung Kurawa menganggap Karna seperti saudaranya sendiri. Pernah sekali waktu Karna diajak oleh Duryudana untuk ikut belajar bersama mereka. Namun, Resi Durna telanjur tahu bahwa Karna bukan kerabat istana. Ia pun diusir keluar ruangan. Jadilah, Karna hanya bisa mencuri-curi dengar ilmu dari Resi Durna. Ilmu itu lalu dipraktikkannya. Tanpa guru, kemampuan memanah Karna termasuk hebat. Nyaris sepadan dengan Permadi, kedua Pandawa yang membuatnya diam-diam memendam iri karena Resi Durna sering mengajari Permadi ilmu memanah secara khusus.

Warsa berganti, kelicikan Kurawa menjadi. Beberapa kejadian membuat Pandawa terusir dari istana Hastinapura. Pedih dan sakit mau tak mau harus mereka sandang. Namun, justru itulah yang menempa Pandawa menjadi ksatria sejati. Lalu, akankah suatu ketika nanti Pandawa mampu kembali ke Hastinapura dan membuktikan siapa ksatria sesungguhnya? Dengan cara apa? Bagaimana pula dengan Karna? Akankah ia terpengaruh oleh Kurawa? Akankah ia menemukan siapa ibunda yang menyia-nyiakannya selama ini? Akankah rasa irinya kepada Permadi terhenti? Penasaran? Temukan semua jawabannya dalam novel yang berhasil menyabet best seller nasional ini.

Hmm, menikmati detail kisah dalam novel ini membuat saya sekaligus belajar tentang sejarah dan kekerabatan di dunia wayang. Awalnya tidak mudah, mungkin karena saya bukan termasuk orang yang suka pelajaran menghapal. Namun, ketertarikan saya terhadap wayang perlahan memunculkan rasa penasaran, sampai akhirnya saya tuntas membaca halaman novel ini hingga akhir. Menurut saya, pasti hebat jika suatu ketika nanti cerita novel ini diangkat menjadi film animasi. Ya, tentu saja! Betapa banyak penduduk dunia wayang yang sakti mandraguna; tiap orang kadang memiliki tak hanya satu, tetapi dua sampai tiga ajian. Hebat!

Meski lebih banyak menceritakan kisah Mahabharata, novel ini juga menjawab rasa penasaran saya terhadap kisah Ramayana yang dulu saya baca dari materi pelajaran seni tari zaman duduk di bangku SMP. Saya pikir kerajaan Ayodya tidak berada di dunia yang sama dengan Hastinapura. Rupanya Ayodya adalah juga negara tetangga Hastinapura, seperti halnya Mandura, Mandraka, Wirata, Cempalareja, dsb.

Selain hal-hal di atas, ada banyak cerita menarik yang membangun kisah utama perseteruan Pandawa-Kurawa dalam novel ini. Cerita-cerita ini membuat alur kisah semakin seru dan hidup. Seperti misalnya cerita saat kerajaan Mandura diserbu oleh bangsa peranakan raksasa setelah Dewi Kunti diboyong ke Hastinapura; cerita tentang Bambang Ekalaya, seorang raja yang sama sekali tidak diperkenankan berguru pada Resi Durna; serta cerita tentang perjalanan Permadi berguru dan sekaligus mencatatkan ketampanannya di hati hampir tiap perempuan yang ia temui.

Ada banyak perlambang tergambar dalam cerita ini. Tidak hanya bewujud gambar tokoh wayang, tetapi juga perlambang secara filosofi. Tentu saja, dunia wayang seperti mewakili dunia manusia. Ada sisi baik, juga buruk. Ada yang terlampau licik sehingga tak urung menimbulkan intrik. Ada kesetiaan, cinta, cemburu, dan pengorbanan. Ada doa dan penghiburan seperti pada bagian Bhagawadgita. Ya, siapapun dari kita yang ingin belajar menjadi ksatria sejati, layak membaca novel ini. Akhirnya, 4.7 dari 5 bintang saya apresiasikan untuk Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna.

Iklan