Tag

, , , , , , ,

Tiga Perayaan

 

Judul: Tiga Perayaan
Pengarang: Latifa Amalia Sagitta Syahril, Satria Julio Syahputra, dan Pratiwi Herdianti Putri
Penyunting: Irwan Bajang
Jumlah halaman: 120 halaman
Cetakan: Pertama, Januari 2013
Penerbit: Indie Book Corner
ISBN: 978-602-7673-76-5

Adalah Arya (Satria), seorang lelaki yang terjebak dalam dua cinta. Perkenalannya dengan Nura (Latifa) pada awalnya serupa pemanis yang membuka kisah dalam buku ini. Debar-debar senang dan kasmaran jelas tersurat ketika keduanya melakukan kopdar. Arya dan Nura memang berkenalan via dunia maya. Jarak Jakarta—Batam tak membuat mereka putus asa dan tetap menjalani long distance relationship (LDR).

 

Bulan sabit memandang, lalu berkabar kepada bintang paling terang. Mereka turun menyapa, seakan turut berbahagia.

Malam ini, kembali puisi membuatkan cerita lagi, untuk aku—kau, lalu resmi menjelma menjadi kita.

Kepadamu, berjanjilah untuk terus menjadi bagian dari kisahku.

Arya – Kasih, Mari Memulai Kisah (halaman 21)

 

Ada debar-debar kasmaran di awal perjumpaan mereka berdua, disusul kemudian rasa ragu dan prasangka mulai muncul beberapa waktu kemudian. Ragu. Ya, keraguan Nura sepertinya menjadi sinyal bahwa telah terjadi sesuatu dengan sang kekasih. Diam-diam Arya mendua. Ia memberikan ruang lain di hatinya kepada, Kira (Pratiwi). Hubungan jarak jauh memang terkenal rentan godaan.

 

Sepertinya kau lupa, belum ada kata perpisahan. Tapi bab awal buku kisah kita tak pernah lagi kau tuliskan. Pun saat aku berkata suatu kali, “Apa kau lupa akan cinta kita?”

Dan saat cintamu kembali berkumandang, aku merintih lirih. Karena kalimatmu bukan untukku lagi.

Nura – Sepertinya Kau Lupa (halaman 53)

 

Sejak dua cinta, Nura dan Kira, berada di hati Arya, ada janji yang tanpa sengaja teringkari. Ada hati yang tanpa sengaja terluka. Ada dusta yang sebaik apapun ditutupi, tetap terbongkar di akhir cerita.

 

Aku kopi dan kamu gula yang menyatu, saling memberi rasa. Tak peduli siapa nanti yang akan menyesap kita dalam-dalam, lalu meninggalkan bekas bibirnya pada bibir cangkir kita.

Aku kopi dan kamu gula, yang menoreh perasa manis pada secangkir cairan yang kita sebut kita, yang menyamarkan getir yang tercipta pada kita.

Kira – Aku dan Kamu dalam Secangkir Kopi (halaman 107)

 

Akankah Nura dan Kira memaafkan Arya? Siapa yang akhirnya dipilih Arya: Nura, Kira, atau bukan keduanya? Penasaran? Temukan semua jawabannya di Tiga Perayaan. 😉

Hmm, agaknya tema cinta memang tak pernah ada habisnya dikupas, apalagi jika dikemas dengan cara yang unik. Tiga Perayaan adalah perwujudannya. Buku ini merupakan kolaborasi tiga pengarang puisi dari tiga kota berbeda di Indonesia. Itu bisa saya lihat dari sampulnya, tiga gelas berisi minuman berbeda warna.

Menikmati kumpulan puisi yang mampu berkisah, seperti itulah rasanya membaca Tiga Perayaan. Berbeda dengan antologi puisi biasanya, Tiga Perayaan menyuguhkan untaian kisah cinta segitiga lewat rangkaian puisi yang menawan. Dengan sedikit pengantar prosa dan lebih banyak porsi puisi; kisah yang mereka tulis terbangun begitu unik. Sebelumnya saya belum pernah membaca buku semacam ini. Sungguh, perpaduan dua genre yang apik. Empat dari lima bintang saya apresiasikan untuk Tiga Perayaan.

Sayangnya, buku apik ini dijual terbatas. Saya sendiri mendapatkan Tiga Perayaan karena saya mengikuti event #PuisiHore2 tahun 2013 lalu. Latifa yang kala itu menjadi salah satu sponsor acara-lah yang mengirim buku ini ke alamat saya. Tapi, jangan khawatir, Sahabat penikmat puisi bisa mendapatkannya dengan menghubungi langsung penerbit Indie Book Corner via twitter @indiebookcorner.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari bergabung, angkat cawan kita, dan … bersulang! 🙂

Iklan