Tag

, , , , , , , ,

Letters to Aubrey

Judul: Letters to Aubrey
Penulis: Grace Melia
Penyunting: Triani Retno A.
Jumlah halaman: 266 halaman
Cetakan: Pertama, Mei 2014
Penerbit: Stiletto Book
ISBN: 978-602-7572-27-0

Ubii, demikian si kecil Aubrey Naiym Kayacinta disapa. Siapa yang bakal menyangka jika nasib menuliskan keistimewaan atas hidupnya. Ubii dilahirkan dengan menyandang congenital rubella syndrome akibat terinfeksi virus Rubella semasa kehamilan ibundanya: Grace Melia.

Semua “mimpi buruk” itu dimulai sejak kelahiran Ubii. Hari itu, 19 Mei 2012, beberapa kejanggalan terjadi. Ubii lahir tanpa menangis, bahkan secara berturut harus menjalani opname dan beberapa tes. Hasilnya? Kebocoran saluran jantung, profounding hearloss, hingga positif Congenital Rubella Syndrome.

Begitu mengetahui vonis dokter, betapa kesedihan, penolakan, dan gumulan emosi Grace dan suami mewarnai hari-hari perjuangan mereka. Nyatanya, tidak mudah menghadapi kenyataan. Namun, kehadiran Ubii sungguh membuka pintu kehidupan sejati. Bahwa Grace dan suami benar-benar ditempa menjadi orangtua yang siap-siaga terhadap apapun yang terjadi pada buah hati mereka. Ada banyak ujian yang mereka hadapi, sebanding pula dengan banyaknya hikmah dan pelajaran berharga yang dituai. Ada cinta tanpa batas untuk Ubii, yang meski dimulai dengan rasa sedih dan kecewa, pada akhirnya memunculkan kekuatan dan keberanian begitu besar untuk menghadapi kehidupan.

“Banyak-banyaklah bersyukur karena Ubii dikelilingi oleh orang-orang yang menerima dan menyayangi Ubii dengan tulus. When you’re able to see that and be grateful. Life will be way much easier and more exciting. Life offers opportunities to be happy as many as to be sad. Setiap Ubii bangun tidur di pagi hari, Ubii mempunyaii dua pilihan: menjalani hari dengan perasaan positif atau negatif. The decision is fully yours. Be sure that you choose the right choice.” –halaman 261

***

Membaca bagian per bagian buku ini, saya seolah dibawa lari oleh sebuah roller coaster berkecepatan tinggi. Alangkah tidak mudah menjalani hidup sebagai Grace, si ibu muda. Namun, di sisi lain, saya tersentuh membaca surat-surat Grace untuk Ubii yang dikisahkan dengan kalimat lugas, berani, dan penuh kejujuran. Ada banyak hal “jleb” yang diakui oleh Grace di sini. Kekurangsiapan mental, pergumulan emosi dan ego dengan pasangan, biaya pengobatan/fisioterapi yang mahal, cara pandang orang lain terhadap mereka; semua disampaikan apa adanya. Tentu, saya merasa justru di sinilah letak keunikan buku ini.

Di sisi lain, secara tidak langsung, dalam surat-suratnya Grace menyampaikan juga kepada para pembaca betapa pentingnya mengerti tentang infeksi TORCH sejak dini dengan bahasa ringan. Ditambah lagi dengan keinginan kuatnya untuk berbagi, memunculkan ide brilian. Rumah Ramah Rubella adalah salah satu wujud letupan ide Grace. Alhasil, ia sering diundang menjadi narasumber talkshow dan diskusi mengenai rubella.

Ia juga menyampaikan apa-apa saja yang diperlukan untuk mengantisipasi gangguan Rubella. Orangtua dengan anak seperti Ubii harus berkonsultasi kepada siapa, harus terapi apa saja, berapa nominal yang sekira harus disiapkan untuk skrining, pengobatan, fisioterapi, dsb. Pendek kata, karena cinta kasih kepada Ubii-lah, Grace bisa membagi semua informasi ini kepada sesamanya. Sungguh sebuah inspirasi tiada henti yang patut diapresiasi. Overall, lima dari lima bintang saya sematkan untuk Letters to Aubrey, sebuah tanda cinta kasih tanpa batas untuk Aubrey.

Banner Review (1)

Iklan