Tag

, , , , , , , , ,

Judul film: Hawking (film TV)
Sutradara: Philip Martin
Genre: biografi, drama
Produksi: British Broadcasting Corporation (BBC)
Tahun rilis: April 2004 (Inggris)
Durasi: 90 menit

Namanya Stephen Hawking (Benedict Cumberbatch), seorang ahli kosmologi. Pada usia awal duapuluh ia telah merencanakan melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral. Sayangnya, tepat di malam pertambahan usia ke-21, tubuhnya mendadak lemas. Ia tak mampu sama sekali menggerakkan ataupun menopang tubuhnya. Menurut dokter, tidak ada yang salah dengan saraf tulang belakangnya. Gejala lemas itu adalah pertanda sebuah penyakit: Neuron Motoric Disease. Akibat penyakit langka ini Stephen harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski demikian, pada akhirnya dokter yang menangani ia pun menyerah. Tidak ada obat untuk penyakit ini. 

Kejadian ini begitu memukul kedua orangtuanya, Frank Hawking (Adam Godley) dan Isobel Hawking (Phoebe Nicolls). Namun, mereka sepakat untuk tak menyerah. Mereka ingin melihat anak semata wayang mereka bahagia. Bagaimanapun yang mereka punya hanya dua tahun. Ya, waktu perkiraan hingga Stephen benar-benar lumpuh total. Maka, mereka mengirim Stephen untuk kembali belajar di Cambridge University.

Memulai kuliah kembali dalam kepayahan, begitulah yang dilakoni Stephen. Tubuh dan anggota geraknya bisa mendadak tak terkontrol dan lemas. Neuron Motoric Disease yang ia sandang ditengarai membuat ia perlahan kehilangan sel-sel saraf gerak, tetapi untungnya, penyakit tersebut sama sekali tidak memengaruhi pusat saraf. Ia masih tetap bisa berpikir cemerlang.

Bukan hanya kondisi kesehatan yang menjadi tantangannya. Pertama kali ia datang kepada Dennis Sciama (John Sessions), dosen pembimbingnya, Stephen bahkan belum tahu apa yang ingin ia dalami sebagai fokus studi. Lalu, apa hal itu lantas membuat ia berhenti? Apa yang terjadi kemudian? Bagaimana perjalanannya menemukan waktu di alam semesta? No no, tidak ada spoiler di sini hehehe. Tapi …, saya hanya akan menyampaikan, bahwa kalau ia memutuskan berhenti di program doktoral, kita tentu takkan mengenal Prof. Stephen W. Hawking, salah satu ahli yang disebut dalam buku Fisika chapter Alam Semesta.

Saya paling suka quote Stephen yang ini,

I believe in the possible. I believe small though we are, insignificant we may be, we can reach a full understanding of the universe. You were right, when you said you felt small looking up at all that out there. We are very, very small, but we are profoundly capable of very, very big things.

Aku mempercayai kemungkinan. Aku percaya seberapapun kecilnya kita, seberapapun insignifikannya kita, suatu hari kita akan memahami alam semesta dengan sepenuhnya. Kau benar ketika kau bilang kau merasa kecil kalau melihat ke atas sana. Kita memang sangat, sangat kecil, tapi kita mampu akan hal-hal yang sangat, sangat besar.

Ada optimisme dan semangat di situ; yang bahkan tidak surut meski kondisi kesehatannya berangsur menurun. Menonton Hawking, sekalipun hanya sepenggal kisah, membuat saya tahu seperti apa perjuangan hidup dan sisi manusiawi seorang scientist. Sisi yang takkan bisa saya peroleh jika saya hanya asyik membaca buku-buku teori Fisika dan mengerjakan soal-soal.

Bagaimana dengan si aktor utama? Menghayati peran, itulah yang saya lihat dari akting Benedict Cumberbatch. Ia memerankan sosok yang ia kagumi itu dengan baik. Yang paling saya suka adalah saat-saat ia tersenyum lebar. Wow, senyum 10 cm yang menjadi icon saya saja kalah. *alamak! 😛 Pantaslah jika Ben memenangkan penghargaan di kategori Best Performance by an Actor di Monte-Carlo TV Festival tahun 2004 dan mendapat nominasi Best Actor di BAFTA Awards 2005.

Di film sebelumnya yang saya tonton, saya memang belum pernah melihat Ben tersenyum semanis dalam film ini. Well, Hawking memang saya tonton lebih akhir ketimbang serial Sherlock Holmes-nya. Karena kepincut dengan akting Ben yang waaah sebagai Benedict ‘Sherlock’, saya lantas menoleh ke belakang dan mencari film lain yang ia bintangi. Yap, khas seorang kepoist, begitulah! 😆

Film ini bagus, meski di beberapa bagian terpecah oleh percakapan dua orang ahli dari Amerika. Bagi yang suka dengan film ringan, agak sulit memahami dan memadukan dua bagian—yang sebenarnya terkait—ini. Serius, meski tidak serumit Inception. Akhirnya, 7,5 dari 10 bintang saya sematkan untuk Hawking (2004).

Iklan