Tag

, , , , , , , , , ,

Untuk Angeline

Judul film: Untuk Angeline
Sutradara: Jito Banyu
Produser: Niken Septikasari, Duke Rachmat
Genre: drama, biografi
Produksi: Citra Visual Sinema
Tanggal rilis: 21 Juli 2016 (Indonesia)
Durasi: 100 menit

 

Raut wajah Samidah (Kinaryosih) tampak kosong dan kuyu menghadapi persidangan. Benak perempuan asal Banyuwangi itu berkecamuk. Ia harus menjawab permintaan Hakim ketua (Ratna Riantiarno) untuk memaparkan kesaksian. Ingatannya lantas melayang menuju masa silam; menuju hari kala ia dan suaminya, Santo (Teuku Rifnu Wikana), tengah terlibat pembicaraan serius.

Hari itu mestinya Samidah senang bisa menimang putri pertamanya. Sayang, kenyataan tak seperti yang diinginkan. Uang yang ia kumpulkan untuk biaya persalinan, rupanya tak cukup menebus biaya rumah sakit. Posisi mereka terjepit.

Sementara Samidah murung dan bingung, Santo terlihat enggan berkorban. Alih-alih mau menjual motor, Santo malah menunjukkan jalan pintas yang sulit diterima nalar Samidah: menyerahkan bayi kecilnya kepada John dan Terry (Roweina Umboh). 

Meski awalnya Samidah memberontak; pada akhirnya ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Kehidupannya yang serba sulit di Bali, ditambah bujukan Santo memaksa ia menandatangani surat pernyataan adopsi. Ya, sejak hari itu hingga 18 tahun kemudian, hak pengasuhan berada di tangan John dan Terry—pasutri yang berbaik hati menebus biaya rumah sakit Samidah dan bayinya.

***

Angeline, begitu John memberi nama bayi mungil Samidah. Sebelum mengadopsi Angeline, ia hidup bersama Terry dan anak tirinya, Kevin. Sebagai ayah, John berusaha berlaku adil terhadap istri dan kedua anaknya. Namun, entah bagaimana, kehadiran Angeline di tengah keluarga John justru memantik api cemburu. Bahkan karena rasa cemburu itu, Terry dan Kevin sering secara terang-terangan berusaha melukai Angeline.

Saat usia Angeline 5 tahun, John meninggal dunia. Semenjak itu kehidupan Angeline berubah drastis. Kehilangan sosok ayah angkat yang sangat dicintai, teramat berat bagi gadis kecil itu. Hari-harinya kian buruk karena perlakuan ibu dan kakak angkatnya. Di rumah mewah Terry, Angeline diperlakukan tak manusiawi. Hukuman fisik dan makian menjadi makanan sehari-hari.

Di lain pihak, kejadian demi kejadian yang menimpa Angeline (Naomi Ivo), membuat ibu kandungnya menerima firasat. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anak. Karena firasat itu pula, Samidah yang telah beberapa tahun bekerja di luar kota memutuskan kembali ke Bali. Sayang sekali, ia justru menemui kenyataan pahit lain. Tanpa sepengetahuan Samidah, suaminya memiliki istri muda. Tidak cukup sampai di situ. Kesedihan hati Samidah bertambah kala ia mendapat kabar dari polisi: Angeline ditemukan tak bernyawa.

***

Ah, alangkah kecut hati saya menonton film ini. Kejadian demi kejadian membuat emosi saya bergolak. Di bagian awal saja, saya sudah gemas dengan cara Santo memperlakukan Samidah. Mengapa seringan itu Santo memutuskan sesuatu semacam adopsi? Ke mana rasa belas kasih terhadap istri dan darah dagingnya sendiri? Apalagi saat melihat keengganan Santo berkorban, rasanya saya ingin sekali menggebrak meja sambil berteriak,

“Suami macam apa kamu, Santo?!” 👿

Di bagian lain, tangis saya membanjir karena Angeline. Bagian yang mana? Saat di sekolah Angeline diselenggarakan peringatan Hari Ibu. Kala itu Angeline diminta naik ke atas panggung oleh Ibu Guru (Dewi Hughes) untuk bercerita tentang “seperti apa ibumu”. Sungguh, saya bisa memahami jika Angeline sampai mengatakan bahwa ia tak mengenal ibunya. Perlakuan ibu angkatnya yang tak manusiawi ‘berhasil’ menggoreskan luka batin nan dalam. Ketika ia mau terbuka dan bicara, air matanya seolah sedang meminta tolong kepada orang-orang di sekitarnya. Meskipun, yaah, Angeline sama sekali tidak bicara terus terang soal perlakuan buruk ibu dan saudara angkatnya.

Hmm, film yang terinspirasi dari kasus Engeline ini, membuat saya lantas berandai. Apa mungkin jika Angeline (dan juga Engeline dalam kasus sebenarnya) mau memberontak dan kabur dari rumah demi meminta pertolongan … apakah mungkin dia masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini?

Well, jika kita bicara tentang kemungkinan, rasanya akan tetap ada. Yang jauh lebih penting adalah pelajaran yang bisa kita petik. Salah satunya membekali anak-anak di sekitar kita supaya lebih berani bicara jika ada hal-hal buruk, seperti bullying, menimpa mereka. Film ini juga mengingatkan kita sebagai orang dewasa agar mampu mengendalikan diri, terutama saat berhadapan dengan anak-anak.

Ini saatnya kita stop kekerasan terhadap anak!

 

PS.
Beberapa dokumentasi nonton bareng Untuk Angeline di Empire XXI pada tanggal 25 Juli 2016 bersama Kopiers Jogja

nobar Untuk Angeline_ foto oleh Ajisaka

usai nonton, Kopiers Jogja pose dulu (foto oleh Ajisaka)

nobar Untuk Angeline_ foto oleh Tunjungs

antusias menanti film dimulai (foto oleh Tunjungs)

pose di depan posterfilm Untuk Angeline (foto oleh Prima Satrianto)

pose di depan poster film Untuk Angeline (foto oleh Prima Satrianto)

Iklan