Tag

, , , , , , ,

Judul: Memang Jodoh
Penulis: Marah Rusli
Penyunting: Melvi Yendra
Tebal: 536 hlm
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-84-6

Blurb
Hamli tak pernah mengira, keputusannya untuk menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orangtuanya. Orangtua yang justru dia harapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat Minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.

Hamli pun kemudian memutuskan untuk melanggar adat, merantau demi ilmu. Dan ketika dalam perantauan dia bertemu dengan mojang Priangan yang menawan hatinya, pilihan getir terpaksa harus diambil. Hamli rela “dibuang” oleh adat dan orangtua demi cintanya.

Kisah semi autobiografi Marah Rusli ini adalah salah satu karya klasik yang hilang dari ranah sastra Indonesia. Siapa mengira bahwa sang sastrawan besar, Marah Rusli, menyimpan kisah cinta yang sedemikian menyentuh dan abadi? Melalui Memang Jodoh, Marah Rusli sekali lagi mempersembahkan sebuah warisan berharga bagi dunia sastra Indonesia.

***

Membaca novel klasik terakhir karya Bapak Roman Modern (julukan Marah Rusli yang diberikan oleh HB Jassin) ini, membuat hati berbunga. Entah, rasanya ada nostalgia yang hinggap begitu saja, seketika mengecupi benak saya. Serupa rasanya dengan mengenang kembali serial hasil adopsi novel pertama beliau, Sitti Nurbaya, yang pernah tayang di TVRI, dulu sekali.

Bukan saja nostalgia dengan wajah manis Novia Kolopaking dan HIM Damsyik (dua artis pemeran Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih) yang muncul, tetapi juga kata-kata klasik yang kurang saya mengerti: beledu, kampil, balam, galib, … juga pantun-pantun khas Minang bertebaran dalam novel ini.

Karena novel ini pula saya tergesa mengutak-atik KBBI daring, lantas setengah tertegun membaca arti kata-kata tersebut. Walah, ini ta yang dimaksud?

Saya salut dengan jalan perjuangan Hamli menemukan jodoh dan meraih cita-citanya. Apakah boleh itu saya sebut sebagai “intuisi”? Hamli mengikuti kata hati–sekalipun sangat sulit–untuk pergi dari tanah kelahirannya lantaran terdorong oleh suara batin yang memunculkan rasa lara dalam hati. Lara yang bahkan tidak tahu akan diapakan; lara yang akhirnya mempertemukannya dengan calon istrinya.

Setelah menikah, apakah ia sembuh? Bagaimana pula kehidupannya setelah menikah? Apakah keluarga Hamli tetap berkeras “membuang” Hamli? Temukan jawabannya di novel ini. ๐Ÿ™‚

Akhirnya, saya mengamini kalimat di blurb, bahwa novel ini seperti harta warisan yang pernah hilang dari ranah sastra Indonesia. … dan karenanya novel ini layak dibaca oleh sesiapapun Sahabat yang sedang merindu akan suasana zaman klasik. Lima dari lima bintang saya sematkan untuk Memang Jodoh.

Iklan